ayeshatantriana:

Quote of the day with Suci – View on Path.

ayeshatantriana:

Quote of the day with Suci – View on Path.


And I wish you could give me the cold shoulder
And I wish you could still give me a hard time
And I wish I could still wish it was over
But even if wishing is a waste of time
Even if I never crossed your mind
The Script - If You Ever Come Back

Apakah kamu berpikir bahwa ini hanya masalah sesak di dada seperti masa lalu ? Salah. Kamu salah besar. Benar kata orang bahwa jangan pernah berharap pada manusia.

Rasanya aku terlalu tinggi menyanjungmu. Aku kira kita bisa menjadi teman baik. Aku kira kita menjadi sahabat karena sifat - sifat kita memang sangat mirip. Aku kira hanya kamu yang akan bisa menerimaku, bagian terburukku sekalipun. Bahkan aku bercerita padamu tentang “orang itu”, yang hanya kuceritakan pada dua orang terdekatku dan salah satunya kamu.

Ternyata hanya sampai di titik aku tidak membagi rahasiaku lainnya lantas kamu tidak mau menjawab pertanyaan sepele macam itu. Aku marah, aku kesal. Sesak di dada bahkan lebih menghimpit dari tahun - tahun sebelumnya. Menurutmu mudahkah mengelupas sesak itu ? Jika aku bisa maka aku akan melakukannya, sayangnya aku sudah mencoba dan masih saja sesak itu menempel. Tapi, toh kamu tidak pernah menganggap aku mencobanya, maka anggap saja aku selalu membencimu. Anggap saja seperti itu, anggap aku yang salah. Terserah kali ini. Semuanya terlalu sesak aku sudah tidak bisa lagi.


Hide.

Aku kira sakitnya sudah hilang. Aku kira memperjauh jarak itu sama dengan memperkecil rasa sakit itu sendiri dan kemudian berharap lambat laun akan hilang seperti terbawa angin. Tak berbekas. Ternyata aku salah. Rasa sakit itu masih ada. Tersimpan di sudut yang gelap dan tak terlihat namun tetap saja masih ada. Begitu ada sedikit saja percikan yang menyentuhnya, maka berkobarlah dia.

Aku kira dengan menjadikannya dekat, maka aku akan berdamai juga dengan sakit itu. Ternyata tidak. Ketika aku mencoba bertemu dengannya dan rasa sakit itu tidak muncul, maka aku berkata pada diriku sendiri,”see. I’m done with him. I was over him.” Dan aku salah lagi. Ternyata rasa sakit itu belumlah hilang. Dia hanya sedang bersembunyi.


Gone.

Sakit.
I was once told that there are two kind of sickness. Jasmaniah and Rohaniah. They told me that the worst one is Rohaniah. When your Rohaniah hurt, there’s just one solution. Allah.

Aku diajarkan melalui rasa sakit itu sendiri bahwa tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa kamu jadikan sandaran. Even the closest ones. Eventually they’ll be gone, leaving you alone, again and again.

Dalam takdir Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Aku tidak berbicara mengenai hal - hal yang bersangkutan dengan agama. Tidak, kemampuanku masih terlampau dangkal. Kembali lagi, sangat mungkin bahwa rasa sakit yang kamu terima berasal dari orang - orang yang sangat dekat denganmu. Ketidakpercayaan mereka atas dirimu, bagaimana mereka selalu mengungkit sisi - sisi gelapmu sebagai tameng untuk merendahkanmu karena sejujurnya hanya di hadapan mereka kamu menunjukkan sisi itu, semua itu menyakitkan bukan ? Rasa sakit yang sangat hebat dibandingkan rasa sakit sekedar ditinggal kekasih.

Entah mengapa di telingaku selalu terdengar hal - hal seperti ini :
“belum pernah aku lihat kamu sedih secara real”
“kenapa kamu selalu ketawa sih ? Aku kan jadi nggak tau kapan kamu marah, gak suka sama keputusanku, kapan kamu sedih”
And so on.
How can I cry over such a trivial things ? Ketika aku sendiri pernah mengalami sakit yang lebih dari itu ? Ketika aku berada di titik paling bawah roda kehidupan, sedangkan tidak ada satupun orang yang mau mempercayai keputusanku bahkan orang - orang terdekatku sendiri yang paling aku percayai. Bukankah itu yang paling sakit ? Jika ditempa seperti itu saja hanya membuatku meneteskan air mata tanpa bisa mulutku berontak, lalu mengapa aku harus marah akan hal - hal kecil lainnya ?

Dan satu hal yang membuatku masih bisa bertahan hanyalah percaya. Percaya bahwa semuanya akan selalu baik - baik saja. Selama aku khusnudzon, selama aku ikhlas, selama aku sabar. Selain itu, Allah masih berbaik hati memberikanku dua kaki yang utuh dan kuat untuk berdiri meskipun aku harus terjatuh ribuan kali. Bukankah itu bagus untuk memiliki satu berita baik di antara berita buruk lainnya ? :)



Udah Malem, Ngaco Semua.

<b> Am :</b> ndut, ketiduran haha<p><b>A :</b> ooohh<p><b>Am :</b> Badanku tadi panas, ndut. Trus selimutan rapet, bangun2 mandi keringet + badan udah dingin :D<p><b>A :</b> brarti tadi kamu lagi sakit, ndut ?<p><b>Am :</b> Hehe nggak, tp gak tau kok tiba2 panas bgt, gak ngerasa sakit tapii<p><b>A :</b> gerah paling<p><b>Am :</b> Masa gerah ngerasa panas di dalam. Nafasku lho juga panas td ndut<p><b>A :</b> ooh panas dalem brarti haha.<p><b></b> Jangan jangan ada naga di paru2mu, ndut<p><b>Am :</b> Ada kompor di hidungku -_-<p><b>A :</b> ...<p>

Beberapa orang di dunia ini merasa seperti ini : “Aku tidak memiliki teman baik/sahabat kecuali diriku sendiri”

… dan mereka bahagia dengan caranya yang menyendiri :)

-kurniawangunadi

(via kurniawangunadi)

Almost there.



Sudah Sangat Terlambat.

Tidak ada kata terlambat
Itu yang aku tahu
Gagal ?
Coba saja lagi
Sejauh ini, itulah yang aku pahami

Ada hal yang harus kau tahu
Aku pernah menunggumu jauh sebelum sekarang
Yaitu dulu ketika hatiku masih bertaut padamu

Tepat saat kau menghilang dari rengkuhanku, sudah tidak tergapai hangatku
Saat itulah aku benar - benar melepasmu
Saat itulah rasaku sudah menjadi batu, aku buang jauh - jauh
Kenapa baru sekarang kembali ?
Menurutku itu sudah sangat terlambat